
Sumber: telisik.id
Di jantung Kota Kendari, berdiri sebuah mahakarya arsitektur yang tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai permata estetika kota: Masjid Al-Alam. Dijuluki sebagai ‘Masjid Terapung’, ia berdiri megah di atas perairan Teluk Kendari, memberikan kesan seolah-olah masjid ini mengapung tenang di antara ombak.
Namun, daya tarik Masjid Al-Alam melampaui keindahan arsitekturnya yang menyerupai Burj Al-Arab dengan menara-menara menjulang. Bagi warga lokal dan pelancong, Masjid Al-Alam adalah panggung alami terbaik untuk menyaksikan pertunjukan paling romantis di ufuk timur Indonesia: Senja.
Sore hari adalah waktu magis di pelataran masjid. Di tengah hembusan angin laut yang sejuk, ribuan orang tumpah ruah. Mereka bukanlah hanya jamaah yang menunggu azan Magrib, tetapi juga para pencari ketenangan, pecinta fotografi, dan sekadar kaum muda yang ingin nongkrong dengan latar belakang yang tak tertandingi.
Dari tepi plaza yang luas, pandangan terhampar bebas menatap Teluk Kendari. Di sana, Anda bisa melihat perahu-perahu nelayan pulang perlahan, menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan cahaya keemasan. Saat matahari mulai merayap turun, seluruh langit seolah terbakar. Warna jingga, merah muda, dan ungu berkolaborasi apik, melukis siluet empat menara Al-Alam yang berdiri kokoh. Momen ini adalah perpaduan sempurna antara spiritualitas dan panorama alam—tempat yang pas untuk merenung atau hanya berbagi tawa bersama sahabat, sambil menunggu indahnya lantunan azan yang memecah keheningan.
Masjid Al-Alam bukan sekadar ikon; ia adalah ruang publik, living room besar bagi kota ini, tempat di mana kemegahan ciptaan manusia berpadu harmonis dengan kebesaran ciptaan Tuhan. Ia membuktikan bahwa keindahan laut dan keheningan religi dapat menjadi tempat pertemuan yang paling dicari.
0 Komentar